Skandal Korupsi BUMN: Danantara Siap Sikat Habis Ratusan Perusahaan Pelat Merah!
- account_circle Akong
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Bersih-bersih massal, Danantara siap seret ratusan pejabat BUMN nakal ke KPK tanpa pandang bulu. (Foto: Ist/Nexzine)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NEXZINE.ID – Kabar mengejutkan datang dari dunia korporasi pelat merah kita, nih. Presiden Prabowo Subianto baru aja mengambil langkah super ekstrem buat beresin masalah klasik yang udah menahun: karut-marut dan dugaan korupsi BUMN.
Nggak tanggung-tanggung, pemerintah lewat Danantara Indonesia bakal melakukan audit besar-besaran terhadap 750 BUMN yang masuk dalam daftar restrukturisasi. Langkah berani ini diambil per Juli 2026 sebagai respons atas gerah repotnya publik melihat perusahaan negara yang sering kali jadi “sapi perah” oknum nakal.
Nantinya, hasil dari audit investigatif ini nggak bakal disimpan di laci meja aja, bro. Danantara berkomitmen penuh buat langsung menyerahkan seluruh temuan indikasi tindak pidana korupsi BUMN ini ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Pangkas Massal: Dari 1.000 Perusahaan Sisa Jadi 250 Saja
Rencana pembenahan ini sebenarnya bukan cuma sekadar gertakan sambal. Pemerintah punya target super ketat buat memotong jumlah BUMN dari yang awalnya seribuan perusahaan, menjadi tinggal 250 perusahaan aja di tahun 2026 ini.
Sejauh ini, pergerakannya udah mulai kelihatan nyata banget di lapangan:
- Lebih dari 200 anak dan cucu perusahaan BUMN terpantau udah resmi ditutup.
- Sekitar 750 perusahaan lainnya sedang mengantre buat segera dilikuidasi atau digabung.
- Proses audit forensik keuangan terus berjalan berkala dipimpin langsung oleh Danantara.
Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN, Dony Oskaria, menegaskan kalau institusinya nggak bakal tebang pilih. Dia menjamin nggak bakal ada perlindungan buat pejabat mana pun kalau terbukti main-main sama uang negara.
Kenapa Isu Bersih-Bersih BUMN Ini Mendadak Viral Lagi?
Kamu pasti udah sering dengar kan kalau BUMN kerap dicap netizen sebagai “sarang” korupsi? Modusnya pun klasik banget tapi terus berulang, mulai dari mark-up anggaran proyek, pengadaan barang fiktif, sampai investasi bodong yang ujung-ujungnya bikin negara rugi triliunan rupiah.
Selain masalah hukum, inefisiensi juga jadi penyakit kronis yang bikin publik makin gemas. Banyak BUMN yang strukturnya gemuk dan terus-terusan minta suntikan modal lewat Penyertaan Modal Negara (PMN), padahal kinerjanya memble dan utangnya menumpuk.
Belum lagi masalah “titipan politik” dalam penempatan jajaran direksi dan komisaris yang bikin pengelolaan aset negara jadi nggak profesional. Langkah tegas Prabowo ini dinilai publik sebagai momen krusial buat membuktikan janji kampanyenya dulu yang pengen ngejar koruptor sampai ke Antartika.
Sorotan Tajam Pengamat: Jangan Cuma Janji Manis!
Rencana besar ini langsung memancing perhatian serius dari berbagai pengamat ekonomi dan kebijakan publik. Banyak yang mendukung, tapi nggak sedikit juga yang ngingetin biar kebijakan ini nggak cuma jadi kosmetik politik belaka.
Tuntutan Sikat Habis Tanpa Tebang Pilih
Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, mengingatkan pemerintah agar aksi konkret ini bener-bener paralel. Sambil menutup perusahaan yang nggak efektif, para koruptor di dalamnya juga wajib diseret ke penjara biar nggak hilang begitu aja bareng penutupan perusahaan.
Komisaris BUMN Juga Harus Ikut Diperiksa
Senada dengan Marwan, pengamat BUMN Herry Gunawan menegaskan kalau pemeriksaan jangan cuma mentok di level direksi aja. Dewan komisaris yang punya fungsi pengawasan juga harus dikejar tanggung jawabnya, karena nggak mungkin mereka nggak tahu kalau ada kecurangan di bawah hidung mereka.
Bayang-Bayang Efek Samping: Risiko Finansial Perusahaan Sehat
Di sisi lain, Herry juga mewanti-wanti Danantara soal janji mereka yang katanya “nggak bakal ada PHK” selama proses konsolidasi. Penggabungan perusahaan sakit ke perusahaan yang sehat punya risiko besar menularkan “virus” kerugian finansial yang justru bisa bikin BUMN sehat ikut tumbang.
Restrukturisasi atau Sekadar Formalitas?
Langkah efisiensi lewat pemangkasan ratusan BUMN ini emang jadi angin segar buat tata kelola keuangan negara kita. Tapi tantangan terbesarnya ada pada konsistensi penegakan hukum dan bagaimana mengelola beban operasional baru pasca-merger.
Kalau sistem pengawasannya masih longgar dan penempatan jabatan masih kental aroma politik, ya sama aja bohong. Harapannya, transformasi ini beneran bikin BUMN jadi motor penggerak ekonomi yang mandiri, bukan malah terus-terusan jadi beban APBN.
Kalau menurut kamu sendiri gimana, nih? Apakah pemangkasan massal BUMN ini bakal efektif sikat habis korupsi, atau justru malah bikin masalah baru kayak efisiensi kerja yang melambat?
Penulis Akong
Akong is a writer at Nexzine, covering the latest trends and viral stories through a fresh, relatable lens for younger audiences.

