Angka Kemiskinan di Indonesia Turun Jadi 22,93 Juta Orang, Tapi Kenapa Ketimpangan Desa dan Kota Malah Makin Lebar?
- account_circle Akong
- calendar_month 31 menit yang lalu
- print Cetak

Angka kemiskinan di Indonesia memang turun per Maret 2026, tapi jurang ketimpangan antara desa dan kota justru makin melebar. (Foto: detikcom/Ari Saputra)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NEXZINE.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data terbaru yang mencatat angka kemiskinan di Indonesia turun menjadi 22,93 juta orang atau setara 8,07 persen per Maret 2026.
Jumlah tersebut memperlihatkan penurunan sekitar 430.000 jiwa dibanding periode September 2025 yang saat itu menyentuh 23,36 juta orang atau 8,25 persen.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M Edy Mahmud, mengonfirmasi kabar baik ini di Jakarta pada Rabu (5/8/2026), walau ia mengingatkan masih ada hampir 23 juta warga yang berjuang di bawah garis kemiskinan.
Penurunan jumlah penduduk miskin ini sebenarnya terjadi secara merata di hampir seluruh kawasan nusantara.
Pulau Jawa mencatatkan penurunan persentase terbesar hingga 0,21 poin, namun wilayah ini tetap memegang angka penduduk miskin terbanyak secara nasional dengan total 12,02 juta jiwa.
Di sisi lain, Kalimantan menjadi pulau dengan kantong kemiskinan paling sedikit, yaitu berada di angka sekitar 870.000 orang atau 3,79 persen dari total nasional.
Bersamaan dengan perubahan angka tersebut, BPS juga menyesuaikan Garis Kemiskinan (GK) nasional per Maret 2026 menjadi Rp669.235 per kapita per bulan, naik 4,33 persen dari posisi sebelumnya.
Kalau dihitung berdasarkan rata-rata pengeluaran satu rumah tangga miskin yang diisi sekitar 4,62 anggota keluarga, maka patokan garis kemiskinan rumah tangga nasional kini berada di kisaran Rp3.091.866 per bulan.
Besaran nominal ini tentu bervariasi di tiap provinsi karena dipengaruhi oleh perbedaan harga kebutuhan pokok, pola konsumsi lokal, hingga dinamika biaya hidup masyarakatnya.
Secara statistik, persentase kemiskinan di perdesaan sebenarnya ikut membaik ke angka 10,67 persen, walau nilainya masih jauh lebih tinggi dibanding wilayah perkotaan yang berada di level 6,34 persen.
Namun jika dibedah lebih dalam, ada fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan di balik angka perbaikan statistik ini.
BPS menemukan bahwa Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di perkotaan terus membaik, yang artinya pengeluaran warga miskin di kota makin mendekati garis kemiskinan dan ketimpangannya mengecil.
Sebaliknya, indeks P1 dan P2 di area perdesaan justru makin meningkat, menandakan kalau rata-rata pengeluaran warga miskin di desa makin menjauh dari garis kemiskinan dan jurang ketimpangan di antara sesama warga miskin desa makin melebar.
Kondisi ini menyiratkan pesan penting buat kamu: intervensi ekonomi pemerintah di wilayah perkotaan terbukti lebih efektif dan responsif, sementara warga miskin di pelosok desa tampaknya masih kesulitan mengakses peluang ekonomi yang sama.
Fenomena ini diprediksi erat kaitannya dengan laju digitalisasi, konektivitas transportasi, dan perputaran modal bisnis anak muda yang masih sangat berpusat di area perkotaan.
Penulis Akong
Akong is a writer at Nexzine, covering the latest trends and viral stories through a fresh, relatable lens for younger audiences.

